Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro sukses menyelenggarakan kegiatan International Tropical Summer Course (ITroSCo) 2025 – Camp dengan tema “Sustainable Aquaculture and Marine Ecosystem” pada 10–12 Oktober 2025 di Jepara, Jawa Tengah.
Kegiatan ini diikuti oleh peserta internasional dari berbagai negara, antara lain Bangladesh, Pakistan, Yaman, Mesir, Nigeria, Sudan, dan Filipina. Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan dapat memperdalam pengetahuan dan keterampilan dalam menerapkan prinsip-prinsip akuakultur berkelanjutan dan pengelolaan ekosistem pesisir terpadu, sekaligus memperluas jejaring internasional.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Prof. Agus Trianto, S.T., M.Sc., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, yang dalam sambutannya menyampaikan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan laut dan perikanan tropis.
“Kami berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan semangat kolaborasi internasional dan kesadaran ekologis, sehingga para peserta dapat menjadi agen perubahan di bidang kelautan dan perikanan,” ujar beliau.
Setelah sesi pembukaan, peserta mengikuti offline course dengan dua topik utama bertajuk “Integrating Sustainable Aquaculture Practices for Coastal Resilience” yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ing. Widodo Setiyo Pranowo, S.T, M.Si. dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, BRIN serta “Sustainable Aquaculture for Coastal Resilience” oleh Dr. Muhammad Wahyudin Lewaru, S.Pi., M.Sc. dari Pusat Kajian dan Pemberdayaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan. Para peserta juga mengunjungi Badan Pengelola Kampus Jepara (BPKJ) untuk melihat langsung pengelolaan fasilitas desalinasi, cold storage, dan tambak udang. Menjelang malam, suasana hangat dan penuh warna mewarnai kegiatan cultural exchange, di mana peserta menampilkan pertunjukan budaya khas negara masing-masing mulai dari tarian tradisional, musik, hingga pakaian tradisional. Momen ini menjadi wadah persahabatan dan pertukaran budaya yang mempererat hubungan antar peserta lintas negara.

Hari kedua menjadi puncak kegiatan lapangan di Pulau Panjang, di mana peserta terlibat langsung dalam kegiatan coral transplantation dan coastal clean-up. Melalui aksi sederhana menanam karang dan membersihkan pesisir, peserta berkontribusi nyata terhadap rehabilitasi ekosistem laut dan pelestarian lingkungan pesisir Jepara.


Usai kegiatan konservasi, peserta mengunjungi Dekranasda Jepara, Nalendra Gallery, dan sentra ukir Desa Petekeyan. Di sini, mereka tidak hanya belajar tentang keindahan batik dan seni ukir Jepara, tetapi juga berkesempatan mencoba langsung proses membatik dan mengukir kayu di bawah bimbingan para pengrajin lokal. Pengalaman ini menjadi simbol perpaduan antara kearifan lokal dan semangat global dalam menjaga kelestarian budaya dan lingkungan.


Rangkaian kegiatan ITroSCo 2025 – Camp resmi ditutup pada hari ketiga melalui closing ceremony, yang dipimpin oleh Ketua Pelaksana, Bapak Hendrik Anggi Setyawan, S.Pi., M.Si. Dalam pidatonya, beliau menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan panitia yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan ini.
“ITroSCo 2025 bukan hanya tentang belajar, tetapi juga tentang membangun jejaring, memahami keberagaman, dan menanamkan nilai-nilai keberlanjutan yang akan terus tumbuh di masa depan,” ujar beliau.
Sebagai bentuk apresiasi, panitia memberikan penghargaan Best Video Participant kepada Thrya Al-Aqab dari Yaman, atas kreativitasnya dalam mendokumentasikan pengalaman selama ITroSCo 2025 – Camp dan sertifikat kepada seluruh peserta. Momen ini menjadi penutup yang manis bagi seluruh peserta yang telah berpartisipasi aktif selama tiga hari kegiatan.
Melalui ITroSCo 2025 – Camp, FPIK UNDIP menegaskan komitmennya sebagai pusat pembelajaran dan kolaborasi global dalam bidang perikanan dan kelautan. Kegiatan ini tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga menumbuhkan empati ekologis serta kesadaran akan pentingnya keseimbangan antara manusia, budaya, dan alam.
