Semarang, Indonesia — 9 Oktober 2025.
Ratusan pakar perikanan dan ilmu kelautan dari seluruh ASEAN dan negara lain berkumpul di Muladi Dome, Universitas Diponegoro, untuk menghadiri Simposium Perikanan Internasional ke-13 (IFS 2025) dan Konferensi ke-21 Asosiasi Oseanolog Indonesia (PIT ISOI 2025). Acara gabungan yang diselenggarakan pada 6–9 Oktober 2025 ini menyoroti tema “Perikanan dan Sumber Daya Laut ASEAN untuk Keberlanjutan Global” serta “Peran Strategis ISOI dalam Mencapai Ketahanan Pangan dari Laut dan Daratan.”
Simposium dibuka dengan pidato inspiratif dari Dr. Wiwiet Teguh Taufani, S.Pi., M.Si., Ph.D., Ketua Komite IFS 2025, yang menekankan urgensi kerjasama regional dalam menghadapi tantangan keberlanjutan laut.
“Upaya kolektif kita sebagai ilmuwan dan pembuat kebijakan akan menentukan masa depan perikanan ASEAN. Melalui forum ini, kami berharap dapat menciptakan jalur yang mengintegrasikan penelitian, inovasi, dan aksi komunitas menuju lautan yang berkelanjutan,” ujar Dr. Wiwiet.
Setelah sambutannya, Prof. Ir. Mochammad Amin Alamsjah, M.Si., Ph.D., Ketua Jaringan Pendidikan Perikanan ASEAN (ASEAN-FEN), menyampaikan sambutan selamat datang yang hangat. Ia memuji kolaborasi yang berkelanjutan di antara universitas-universitas anggota ASEAN-FEN dan mendorong kemitraan akademik yang berkelanjutan untuk meningkatkan potensi ekonomi biru kawasan.
“Pertemuan ini membuktikan bahwa ASEAN dapat memimpin dalam pengelolaan perikanan berkelanjutan ketika ilmu pengetahuan bertemu dengan komitmen bersama,” kata Prof. Amin.
Acara tersebut secara resmi dibuka oleh Prof. Agus Trianto, S.T., M.Sc., Ph.D., Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro. Dalam pernyataan pembukaannya, ia menyoroti pentingnya akademisi sebagai motor penggerak inovasi dalam penelitian dan teknologi kelautan.
Hari pertama simposium pada tanggal 7 Oktober menampilkan tiga pembicara utama terkemuka yang berbagi wawasan terdepan tentang keberlanjutan perikanan dan pengelolaan laut.
Prof. MATSUISHI Takashi Fritz, Ph.D. dari Universitas Hokkaido, Jepang, membuka sesi dengan presentasinya berjudul “DFrom Growth to Sustainability: The Future of Capture Fisheries in Southeast Asia.” Ia mengungkapkan bahwa perikanan pesisir di Asia Tenggara mendekati batas kelelahan, sehingga memerlukan transformasi segera dari model perikanan yang didorong oleh ekspansi menjadi pengelolaan yang berorientasi pada keberlanjutan.

Dr. Pavarot Noranarttragoon dari Departemen Perikanan Thailand, selanjutnya memaparkan presentasi berjudul “New Approaches to Assessing and Managing the Multispecies Fishery in the Gulf of Thailand.” Ia menjelaskan kemajuan Thailand dalam menerapkan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan, seperti model hasil multispesies dinamis dan pembatasan upaya penangkapan ikan, untuk memulihkan stok ikan dan menekan penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (IUU).
Menutup sesi, Assoc. Prof. Ts. Dr. Noor Faizul Hadry Nordin dari Universitas Islam Internasional Malaysia memaparkan presentasi berjudul “The Empowerment of Community-Driven Stewardship for Sustainable ASEAN Marine Resources.” Mengambil contoh dari kisah sukses di Filipina dan Indonesia, ia menekankan bahwa keberlanjutan yang sejati harus mengintegrasikan partisipasi masyarakat lokal, hukum adat, dan praktik pengelolaan bersama yang hibrida.

Hari ke-2: Dari Iklim dan Energi hingga Inovasi dan Kebijakan
Pada 8 Oktober, topik beralih ke masa depan ilmu kelautan, aksi iklim, dan pengembangan ekonomi biru dengan lima pembicara utama internasional.
Dr. Agus Santoso dari Universitas New South Wales, Australia, memaparkan temuan terobosan tentang Variabilitas dan Perubahan Iklim Indo-Pasifik, mengungkap dampak yang semakin intensif dari fenomena El Niño dan Indian Ocean Dipole terhadap perikanan regional dan mata pencaharian masyarakat. Dr. R. Dwi Susanto dari Universitas Maryland, AS, menyoroti peran kritis energi terbarukan laut dalam mencapai kedaulatan energi nasional. Pembicaraannya, “Peran ISOI dalam Kemandirian Energi dari Laut,” mendorong Indonesia untuk memanfaatkan potensi arus lautnya yang melebihi 18.000 MW untuk pembangkit listrik berkelanjutan.
Prof. Ocky Karna Radjasa dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) membagikan visinya untuk mengintegrasikan riset dan inovasi guna memastikan ketahanan pangan berbasis laut. Ia menyoroti keanekaragaman hayati Indonesia yang unggul dan fokus BRIN pada bioteknologi rumput laut serta industri bio berbasis laut. Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan, H.E. Sakti Wahyu Trenggono, menyampaikan pidato yang kuat berjudul “Mewujudkan Ketahanan Pangan dari Laut dan Wilayah Pesisir.” Menteri tersebut menyoroti makanan laut sebagai solusi berkelanjutan untuk gizi global, dengan menyoroti kebijakan Indonesia tentang penangkapan ikan yang terukur, konservasi laut, dan transformasi budidaya perikanan.
Menutup rangkaian pidato utama, Bapak Hansan Park, Wakil Ketua UNESCO IOC, memaparkan “Menara Suar Ilmu Kelautan untuk Masa Depan yang Berkelanjutan.” Ia menjelaskan inisiatif-inisiatif IOC dalam kerangka Dekade Kelautan PBB (2021–2030), termasuk sistem pengamatan laut global, integrasi data laut digital, dan kemitraan Pusat Penelitian Teknologi Kelautan Korea–Indonesia untuk meningkatkan kapasitas regional.
Setelah sesi keynote, peserta mengikuti presentasi makalah ilmiah paralel dan pameran poster, yang menampilkan penelitian terbaru dalam teknologi perikanan, ekologi laut, inovasi budidaya perairan, dan pengelolaan pesisir. Sesi interaktif ini memfasilitasi pertukaran ide yang dinamis di antara peneliti, ilmuwan muda, dan profesional industri di seluruh ASEAN.

